Ternyata Mereka Bodoh

Jumat, 11 November 2011

Sore itu, Aku sedang duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu. Menghitung angka dan sesekali meneguk segelas teh manis yang baru saja ku beli di samping rumah. Ada dua kursi disini, tapi kursi yang lainnya kosong dan hanya ada aku yang sedang duduk di tempat ini. Ku lihat beberapa pengendara motor terkadang menoleh kepadaku. Bingung. Aku pun ikut-ikutan bingung. Tiba-tiba aku melihat seorang gadis yang turun dari angkot. Sepertinya gadis ini umurnya sebaya denganku. Sekitar 17 tahun. Penampilannya sederhana saja. Dia memakai kaos berwarna hijau muda dan celana hitam sedengkul. Tidak ada hiasan di atas kepalanya. Rambutnya berwarna hitam kecoklatan dan di ikat seperti ekor kuda. Wajahnya cantik dan menarik. Sepertinya gadis ini adalah gadis yang baik. Tapi mau kemanakah gadis itu? Mengapa dia berhenti disini? Apakah rumahnya di daerah sini juga? Tapi sepertinya aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Mataku mengikuti arah tujuannya. Semakin mendekat denganku. Ternyata dia menuju padaku. Oh bukan! Dia menuju kursi kayu di sampingku. Dia tidak melihat ke arahku sama sekali. Ku lihat raut wajahnya berubah. Dia duduk dan membungkukkan badannya. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Ku dengar suara lirih dari gadis itu. Seperti suara menangis. Apakah gadis ini datang kesini hanya untuk menangis? Ingin aku bertanya pada gadis itu, apa yang membuat ia menangis. Tapi aku tidak punya hak atas hal itu. Dan aku tidak mengenal siapa gadis itu. Jadi ku urungkan saja niatku dan kembali fokus dengan angka sial di bukuku. Tapi, gadis itu tiba-tiba bersuara.
“maaf yah, aku mengganggu. Ku pikir gak ada orang.” katanya sambil tersenyum. Matanya lembab dan suaranya terdengar serak.
“ oh iyah, gak apa-apa. enggak masalah” jawabku dengan suara kecil dan sedikit membalas senyumnya.
“ada yang bisa aku bantu?” tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulutku. Aku memaki diri sendiri karena sudah lancang”
“terima kasih ya,gak ada kok”.
Kemudian dia kembali membungkukkan badan dan kembali menutup wajahnya. Dan akupun kembali dengan tugasku. Suara gadis itu terdengar kembali tapi kecil dan hampir tidak terdengar. Aku jadi kasihan melihatnya. Aku pindah ke sebelah kursi yang dia duduki. Dan ku tawarkan es teh manisku kepadanya. Dia mengangkat wajahnya dan menolak pemberianku lembut.
“makasih lagi yah”
Aku pun memberanikan diri memperkenalkan diri.
“kenalkan, aku,Meri” sambil menjulurkan tangan kanan padanya. Tangannya yang hangat menyambut tanganku,
“ aku, Kiki”.
Dan sepertinya percakapan kami akan berlanjut. Aku memulai dengan memberikan pertanyaan padanya.
“Kamu tinggal di daerah sini juga?”
“iya, agak jauh diri sini “
“iya, itu rumahku!” aku menunjuk ke arah rumahku .
“senang bertemu dengan kamu. Uhmm, Meri” katanya dengan senyum kaku.
Aku senang bertemu dengannya. Aku baru sadar, ternyata sudah waktunya sholat magrib. Aku harus kembali ke rumah. Kataku, dia bisa main di rumahku kapan saja kalau ada waktu. Dan dia hanya mengangguk saja. Aku pamit pulang padanya. Ternyata dia pun juga mau pulang. Kami sama-sama melambaikan tangan dan menuju rumah masing-masing.
Esok sore, Aku kembali duduk di tempat yang sama. Mungkin gadis itu akan datang kembali ke tempat ini. Dan ternyata benar,gadis itu datang setelah 1 jam aku duduk di kursi ini. Aku mengajaknya ke rumah, dan aku kenalkan pada mama. Kami duduk di belakang rumah dan saling bertanya jawab. Giliranku bertanya, aku bertanya padanya soal kenapa dia menangis di halaman depan kemaren sore. Awalnya dia seperti kurang yakin untuk memberi tahu. Dan akupun tidak memaksanya untuk memberi tahu. Kami diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Andai saja aku bisa membaca pikiran orang,pasti aku sudah mengetahui apa yang dia pikirkan. Tapi itu tidak mungkin. Suara gadis itu tiba-tiba memecah keheningan. Dia mulai bercerita tentangnya.
“ kemaren adalah pertama kalinya aku menangis setelah tiga tahun aku berusaha kuat atau berpura-pura kuat. Selama ini aku tidak pernah menangis karena aku pikir aku bisa mengatasi hal ini tanpa mengeluarkan air mata. Tapi ternyata aku salah. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Semua beban yang telah aku simpan sudah menumpuk dan tidak bisa ku tampung lagi. Aku menangis karena air mata itu sudah penuh dan akhirnya tumpah. Aku benci kata orang bahwa perempuan yang menangis itu cengeng. Mereka salah.mereka salah,Mer? Perempuan nangis bukan karena mereka cengeng kan,tapi karena mereka sudah tidak bisa berpura-pura kuat. Tidak bisa lagi berpura-pura tertawa sedang batin mereka tersiksa. Itu yang aku rasakan. Aku pikir aku adalah perempuan yang tidak pernah menyakiti hati orang dengan perkataan ataupun perbuatan yang tidak tau apa sebabnya. Dan kata sahabatku pun begitu. Selama ini aku tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang membuat orang di sekeliling aku menangis atau tersakiti. Karena aku sadar, kalau aku di posisi orang yang tersakiti, rasanya sakit sekali. Tapi kenapa aku malah disakiti? Apa salahku? Haruskah aku berbuat buruk sehingga apa yang aku beri sebanding dengan apa yang mereka kasih? HAH” suaranya tiba-tiba meninggi, emosinya mulai tidak terkendali.
Aku kasihan melihatnya.Ku coba untuk mengendalikan dirinya dan biarkan dia menangis sekencang-kencangnya dan sepuasnya. Ku tunggu dia sampai selesai. Bajunya basah dan terlihat jelas karena warna bajunya abu-abu. Matanya basah dan lembab. Ku tawarkan tisu padanya. Dan saat emosinya sudah stabil kembali,aku mulai berbicara.
“ memang terkadang kita lupa kebaikan apa yang sudah orang kasih ke kita. Tapi kita selalu mengingat keburukan yang orang lain kasih. Tapi kamu jangan balas kejahatan dengan kejahatan yah. Nanti mereka bakal sadar sendiri kok. Apa yanng mereka lakuin itu salah. Berarti mereka belum dewasa. Kamu hebat kok.”
“kamu benar Meri. Makasih ya” katanya sambil memelukku. Aku merasa senang saat itu. Karena temanku bertambah satu lagi. Yaitu KIKI.



Senin, 24 oktober 2011
B.1.7 aspi, Dwiwarna
Blog contents © An Eternal Flame 2010. Blogger Theme by Nymphont.