Barricade Goes To Bali

Senin, 12 Desember 2011

Hari pertama

Sabtu, 15 oktober 2011. Tercatat dalam buku kenangan angkatan 12 “Barricade” menjadi hari yang mengawali cerita indah angkatan 12. Dengan segala pertimbangan, karena banyaknya keraguan dan kekhawatiran orangtua beberapa anak untuk tidak mengizinkan kita pergi ke Bali karena kondisi Bali yang baru saja di landa bencana yaitu gempa bumi dan berpotensi tsunami, akhirnya kami semua bersama Ibu Carmen yang akrab kami panggil “mamen” dan di dampingi 3 guru dan 2 pembina asrama terbang meninggalkan udara Bogor selama 5 hari bersama Airasia ke Bali pukul 16:45 WIB. Di awal perjalanan, suara kami memenuhi ruang pesawat,dan anak-anak tidak ada capeknya bolak-balik ke toilet dan rela harus mengantri meskipun mereka tidak merasa harus ke toilet. Beberapa anak yang membawa kamera mulai berfoto dan berpose di depan lensa untuk meninggalkan sebuah kenangan. Dan kami sangat menikmati suasana ini. Suara pun sedikit demi sedikit mulai tidak terdengar. Pesawat seperti tidak berpenghuni. Kami semua tertidur lelap karena sedari tadi kami mengeluarkan energi yang cukup banyak. Beberapa saat kemudian, suara pramugari membangunkan kami dari tidur yang sepertinya baru saja kami mulai. Kata pramugari, pesawat sebentar lagi akan mendarat di bandar udara international “Ngurah Rai” Denpasar,Bali. “Bali,Bali,Bali” kami semua berteriak sampai pesawat mendarat total. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa pada pesawat yang kami tumpangi. Secara bergantian kami turun dari pesawat dan menuju bagasi. Bau sesajen menyambut kedatangan kami. Wajah-wajah baru dan suasana yang baru akan dimulai. Menunggu barang-barang dari bagasi sebenarnya adalah hal yang melelahkan sekaligus membosankan. Tapi karena barang-barang yang kami tunggu adalah barang-barang rombongan juga, jadi kami satu sama lain menurunkan barang yang sudah terikat dengan pita merah untuk mempercepat pengambilan barang. Dan hasilnya tidak sia-sia. Cepat dan aman. Setelah semuanya beres, kami bergegas menuju mobil masing-masing sesuai kelompok. Sebenarnya kami berencana menggunakan bus, tapi entah apa dan mengapa tiba-tiba rencananya berubah. Kami menggunakan 9 mobil innova yang telah kami rental. saya dapat di kelompok yang drivernya adalah Bima. Kami bertotalkan 8 orang di dalam mobil, ada Yudya,Musdalifa,Vina,Pak Toto,Ahmad,Narro dan saya sendiri. Dengan waktu yang lumayan cepat,kami sampai juga di Kuta. Kota yang akan menjadi tempat tinggal kami selama 5 hari. Tepatnya kami akan menginap di Nathan Hotel. Nathan hotel hanya ada 3 lantai, kami para cewek tidur di kamar yang terdapat di lantai 3, dan yang cowok sebagian di lantai 2 dan sebagian di lantai 1. Di fasilitasi 1 kolam renang yang ukurannya cukup besar dan berada di bagian halaman depan. Sebagian besar penghuninya adalah kami. Hanya ada sedikit warga negara lain yang menginap di hotel ini. Saya dapat kamar dengan nomor kunci 303. 1 kamar berisi 4 orang,dan roommate saya adalah Luffie,Firdha,dan Ajeng. Mengangkat koper ke lantai tiga sangat menyusahkan dan membutuhkan banyak energi. Setelah hampir semua energi terkuras,barulah kami sampai ke tujuan. Di depan kamar hanya ada 1 kursi dan meja yang terbuat dari kayu. Pintunya pun terbuat dari kayu. Segera saya membuka pintu dan mengarahkan pandangan ke sekeliling kamar. Kamarnya tidak begitu besar. Didalamnya hanya ada 2 tempat tidur yang berukuran sedang beralaskan seprai dan selimut putih. Di depannya terdapat 1 televisi yang lumayan besar. Di samping salah satu tempat tidur ada kamar mandi. Kamar mandinya seperti kamar mandi hotel pada umumnya. Di pojok kanan kamar, terdapat 1 lemari kayu dengan 2 pintu yang didalamnya ada 2 kimono dengan corak batik. Dengan senang hati kami masuk dan merebahkan diri di atas kasur. Setelah beberapa saat merasa cukup memanjakan diri di kasur. Kami berganti pakaian dan jalan-jalan di daerah kuta. Tapi sebelum kami pergi,kami sholat terlebih dahulu, menjamak sholat ashar dan dzuhur yang telah terlewati. Hotel kami cukup dekat dengan discovery. Dan di belakang discovery terdapat pantai kuta yang bisa kami kunjungi tiap saat. Di sepanjang perjalanan, banyak sekali pejalan kaki yang asing di mata. Kebanyakan berambut pirang,bermata biru,bertulang tinggi dan warna kulit yang terbakar. Macam-macam bahasa terdengar dimana-mana. Kami semua bingung mencari makan malam, akhirnya kami memutuskan untuk makan KFC saja. Ternyata di KFC banyak juga teman-teman yang makan disitu. Setelah makan, kami langsung kembali ke hotel dan segera beristirahat. Menyimpan energi buat besok hari. Mungkin besok kami akan sangat merasa capek.

to be continuance...

0 comments:

Posting Komentar

Blog contents © An Eternal Flame 2010. Blogger Theme by Nymphont.