Cerita tentang kelas 3!
Jumat, 27 Januari 2012
"Kelas 3. Kita dianggap sebagai yang tertua, harus beri contoh yang baik ke adek-adeknya. Tapi yang tertuapun gak ada yang sempurna, pasti juga ada sifat jeleknya. Oleh karenanya,,, yang lebih muda gak perlu mengikuti sifat jelek kelas 3". Turun temurun kalimat itu selalu menjadi kalimat kelas 3. Kelas 3 bukan sekedar lamanya kita di sekolah,,, tapi pengalaman apa aja yang kita,kelas 3 alami. Terlalu banyak cerita yang dialami oleh kelas 3. Buku tahunan pun gak bakalan sanggup merangkum cerita kita. Cerita mulai dari kita pertama kali di posba oleh kelas 3. Sampai sekarang pun cerita itu gak bakalan luntur dari ingatan kelas 3. Waktu demi waktu yang kita alami di sekolah. Bosan. Jenuh. Ngantuk. Namun bukan sekedar cerita bosannya kita di kelas karena jenuh dan ngantuk. Tapi sekolah lah yang menyambungkan hubungan kami angkatan 12. Angkatan garuda. Barricade. Apel pagi, belajar, sholat dzuhur, makan siang, belajar lagi, semua itu kita alami. Meninggalkan cerita yang kadang tidak kita sadari cerita itu berarti. Yang kita baru akan merasa kehilangan ketika kita udah gak saling ketemu. Memang pepatah selalu berkata benar. Namun asramalah yang menyatukan keinginan dan pikiran kita. Awalnya kita tidak saling mengetahui kejelekan satu sama lain, seminggu kita sudah bisa tau itu. Bahkan aib pun kita ketahui. Karena seperti yang kita ketahui bahwa "tembok dw berbicara". Tidak ada yang bisa kita sembunyikan ketika kita sedang berbicara tentang orang lain di lingkungan dw. Karena kemungkinan,berita itu akan tersebar ke seluruh telinga di dw gak lama setelah menggosip. Terima kasih tembok dw. Tapi tembok itulah yang kemudian mengubah kita menjadi saling memberi tahu keluh kesah kita ke orangnya langsung tanpa memendam rasa dendam. Karena kenyataan, dendam sesama penghuni asrama gak bakal bertahan lama, sia-sia. Mulanya kita dekatnya sama teman sedaerahpulau. Sumatra ama sumatra, jawa ama jawa, kalimantan ama kalimantan, sulawesi ama sulawesi dan papua ama papua. Itu wajar. Kita perlu membiasakan diri dengan teman sedaerah dulu. Karena kemungkinan kebiasaan dan bahasanya sama, sehingga ngomong pun nyambung. Nah, kalau udah nyambung dengan yang sedaerah, mari berbaur dengan daerah lain. Itupun yang telah kita alami. Sampai kelas 3 dulu mempermasalahkan ini, karena kita dianggap tidak berbaur. Trima kasih buat kelas 3 yang sudah mengingatkan kesalahan kita yang awalnya kita pikir itu bukanlah kesalahan. Kelas 1 kita lalui dengan tekanan batin dan fisik dari sekolah, asrama, rumah, dan teman-teman terutama kakak kelas. Namun, syukurlah sekolah masih berbaik hati, karena disamping belajar, kami di fasilitasi dengan berjalan-jalan ria. Sudah banyak sekali tempat yang kita datangi waktu kelas 1. Berbeda dengan ketika kita udah naik 1 tingkat. Kita udah punya adek dan punya kakak. Lebih banyak masalah yang kita dapat. Mulai dari masalah dengan kelas 3 yang kita hadapi sama-sama seangkatan. Kemuian masalah ke adik kelas yang suka ngelunjak dan gak berkepribadian. Sampai kemudian ke angkatan kita sendiri. Masalah sesama angkatan lebih berat dibanding masalah yang lain. Namun karena masalah itulah yang membuat kita lebih kompak. Kemudian semua acara kita yang pegang. Sehingga nilai kita ada juga yang anjlok. Namun itu tidak menurunkan semangat kita pada event terbesar DW yaitu "festival dwiwarna" yang 12 namakan " Essential". Sukses. Mantap. Karena kekuatan semangat dan saling percaya. Dan sekarang kita udah kelas 3. Udah gak ada lagi event yang kita pegang. Sekarang kita fokus ke depan. Mikirin masa depan setelah lulus dari dw. Belajar, belajar dan belajar. Hanya itulah yang kita lakukan. Kelas 3. Wajar,nak! Tapi semakin cepat waktu kita disini, semakin cepat pula kita pisah sama Barricade. Kita gak bakal kayak dulu lagi, makan bareng di asrama, meskipun bu Afi udah berkali-kali melarang kita kalo gak boleh bawa makanan ke asrama. Tapi kita tetap membandel. Diam-diam naro sandal di depan mesjid, padahal sudah disediakan rak buat sepatu dan sendal. Akhirnya bu Afi yang mengalah dan gak bakal buang sendal kita lagi ke samping mesjid. Nonton tv bareng, meskipun siarannya gak kita sukai, tapi kita ngalah satu sama lain. Nonton dvd bareng. Nangis, dela nangis, farin,dina, semuanya nangis. Kita menangis. Dan kemudian kita tertawa. Masak mie ama nasi goreng. Kita bakal kangen masa-masa itu. Masa ketika ada yang toa-in kita kalo ada martabak di common room, ada ice cream, ada makanan buat kita. Berbondong- bondong kita lari dan makan bareng. Masa ketika ada salah satu diantara kita lagi nangis dan kita mencoba membujuknya bukan hanya dengan permen, tapi kita juga memberikan semangat ke dia. Kita mandi bareng, nyanyi, nyetrika bareng di lantai 2. Semua itu gak bakal ada lagi. Cerita tentang kelas 3 gak bakalan sanggup di rangkum dalam cerita ini. Karena banyak sekali rahasia kita yang hanya kita sendiri yang boleh tau. Cerita ini bukan rangkuman cerita tentang kelas 3. Tapi hanya sekedar cuplikannya saja. Buku tahunan yang merangkum kisah kelas 3 gak bakal nandingin ingatan kita tentang dw. Makasih DW. Udah mempertemukan kita disini. Di sekolah asrama. Di rumah kita.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 comments:
kenagan kayak gini gak bakalan ada lagi -_- jadi sedih sendiri hahaha
Posting Komentar